”Kepemimpinan Dharmaning Ksatrya”
Meneladani Spirit Perjuangan Perang Puputan Klungkung Menuju Klungkung Mahottama (Maju, Harmonis, Tenteram dan Makmur)
Dr. I Gede Ngurah Lana Saputra, S.IP.,MAP.
Dharmaning ksatrya berarti kewajiban seseorang berjiwa kesatria sungguh mulia. Nilai yang terkandung dalam slogan Kabupaten Klungkung dharmaning ksatrya mahottama diimplementasikan dalam penyelenggaraan pemerintahan mengandung pengertian kewajiban pemimpin yang utama adalah menegakkan kebenaran untuk tujuan kebaikan. Seorang pemimpin harus memiliki komitmen dan kesungguhan dalam melaksanakan nilai-nilai kepemimpinan Hindu untuk menegakkan dharma sebagai wujud dharmaning ksatrya agar terwujudnya kesejahteraan masyarakat dan Klungkung Mahotama (Maju, Harmonis, Tenteram dan Makmur)
Kepemimpinan dharmaning ksatrya harus dihayati makna folosofis dan spiritnya oleh seluruh birokrasi Pemerintah Daerah Kabupaten Klungkung dengan melihat historisnya. Dharmaning ksatrya menunjukkan bagaimana Semangat perjuangan perang Puputan Klungkung yang terjadi pada 28 April Tahun 1908 dimana Raja Klungkung Ida Dewa Agung Jambe bersama laskar Klungkung melaksanakan dharmaning ksatrya dengan melakukan perang penghabisan (matelasan) melawan penjajah Belanda, menunjukkan bagaimana semangat perjuangan rakyat Klungkung yang menempatkan kehormatan dan harga diri di atas segalanya. Bukan kemenangan fisik yang dicari, tapi kemenangan kehormatan, harga diri, dan spirit. Nilai perjuangan tersebut harus menjadi teladan bagi generasi saat ini dan dimaknai oleh seorang pemimpin untuk terus mengobarkan semangat dalam wujud rasa jengah, tindih dan wirang untuk terus meningkatkan potensi diri dalam mencurahkan seluruh sumber daya yang dimiliki dalam membangun kemajuan daerahnya. 2
Terdapat 4 nilai yang terkandung dalam kepemimpinan dharmaning ksatrya yaitu dharma, ksatrya, satya dan pesaja yang menjadi prinsip dan landasan kinerja yang menjadi tuntunan dan memberikan motivasi untuk dapat melaksanakan swadhrma masing-masing.
Prinsip kepemimpinan yang berlandaskan dharma menurut ajaran kepemimpinan yang diberikan sang Rama kepada Bharata, dalam Pupuh/Wirama Wangsastha sebagai berikut:
”Prihen temen dharma dumaranang sarat, saraga Sang sadhu sireka tutana, tan artha tan kama pidonya tan yasa, ya sakti sang sajjana dharma raksaka”. Artinya : Usahakan dharma dalam kehidupan di dunia ini. Mereka yang bijaksana hendaknya dijadikan panutan bukanlah harta, nafsu atau kemasyuran keberhasilan sang bijaksana adalah karena paham benar hakekat dharma.
Ksatrya adalah adalah sebuah nilai perjuangan yang mana dapat diartikan sebagai seseorang yang memiliki keberanian dan semangat yang sangat tinggi dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya berpijak pada dharma atau kebenaran sehingga diperlukan karakter dan mental yang kuat, sigap dan cekatan serta memiliki keseimbangan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Ksatrya juga menunjukkan jiwa loyalitas terhadap negara, institusi, dan organisasi tempat bekerja.
Nilai ksatrya adalah keberanian seorang pemimpin. ksatrya juga artinya yang memberi perlindungan. Ksatrya adalah nilai kepemimpinan yang akan selalu melindungi rakyatnya. Seorang pemimpin tidak akan bisa disebut pemimpin apabila tidak ada rakyat yang mengakuinya. Begitu juga halnya dengan seorang pemimpin jika ingin berwibawa di mata rakyatnya haruslah bisa memposisikan diri secara positif serta menjalin hubungan yang baik dengan masyarakatnya, hubungan tersebut secara implisit diumpamakan sebagai singa dan hutan yang saling menjaga sebagaimana yang diungkapkan dalam kutipan Kakawin Niti Sastra I.10 :
”Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan. Jika singa dengan hutan berselisih, mereka marah, lalu singa itu meninggalkan hutan. Hutannya dirusak binasakan orang, pohon-pohonnya ditebangi sampai menjadi terang. Singa yang lari bersembunyi di dalam curah, 3
ditengah-tengah lading, diserbu orang dan dibinasakan”.
Nilai satya dalam kepemimpinan dharmaning ksatrya yang menunjukkan kejujuran dan kesetiaan sebagai wujud konsistensi dalam melaksanakan tugas dan kewajiban yang berpegang teguh pada aturan hukum untuk menghindari perilaku melanggar hukum. Satya yang merupakan ajaran tentang kesetiaan, kejujuran dan berlandaskan kebenaran terdiri dari lima bagian yang disebut Panca Satya yang terdiri dari, yang pertama adalah Satya Wacana yang mengajarkan kita untuk selalu berpegang pada kebenaran, jujur pada diri sendiri, dan orang lain. Kedua, Satya Herdaya yang mengajarkan kita setia akan kata hati, berpendirian teguh dan tidak terombang-ambing dalam menegakan kebenaran. Ketiga, Satya Laksana yang mengajarkan manusia untuk bertanggung jawab atas perbuatannya berlandaskan kebenaran. Keempat, Satya Mitra yang mengajarkan kita bagaimana agar dapat bersikap setia terhadap hubungan yang dibangun dan memberikan tindakan yang benar baik itu dengan teman ataupun pasangan. Kelima, Satya Semaya mengajarkan kita akan dapat bersikap setia atas janji yang sudah dibuat.
Kepemimpinan dharmaning ksatrya juga harus dilaksanakan dengan pesaja sebagai sebuah komitmen dan kesungguhan dalam melaksanakan swadharmanya. Konsep Pesaja yang selalu tulus iklas dalam bekerja, semangat dan fokus dalam mengabdikan diri untuk kemajuan daerah Kabupaten Klungkung sebagai implementasi dharmaning ksatrya mahottama yang merupakan slogan Kabupaten Klungkung yang artinya kewajiban seseorang berjiwa kesatria sungguh mulia bahwa kewajiban utama seorang pemimpin adalah menegakkan dharma untuk terwujudnya kesejahteraan masyaraka menuju Klungkung mahottama (Maju, Harmonis, Tenteram dan Makmur).